Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

Ingin Segera Pulang


Ini juga enggak jelas juntrungannya apa masuk daftar peserta atau tidak. Dan berpendapat lain dengan penuh was-was dimana enggak jelas juga diriku sudah memasukkan alamat email dengan benar atau tidak setelah mendapat pengalaman sebelumnya pernah memasang alamat email yang keliru... padahal copas
 >_<
akhirnya copas menggunakan copy link location biar valid lalu diulangi dengan merapal huruf demi huruf alamat yang dimaksud dan memastikan semua, baru  nekan ikon 'kirim'...
Dan pede juga aku menyertakan cerpen ini ke +flp.fsin2015@gmail.com  [Ups!] tidak ditemukan URL link-nya... yakni Festival Sastra Islam Nasional tahun 2015 yang diselenggarakan +Forum Lingkar Pena
Mencoba membuat cerpen ringan dan  nyatanya hanya kata nyastra saja yang di cerita 0_o

Kamis, 31 Desember 2015

Legenda Gentansari

Lanjutan saat ikutan Lomba kepenulisan Cerita Rakyat 2015 oleh Kemendikbud...
Dari blog YouandWe 'Tentang Cerita Rakyat'

Sebelum fix menemukan pov 2, cerpen ini kutulis menggunakan  kata ganti aku, kau, dan dia.
Bener kata bunda Shabrina +eni wulansari  ...rupanya aku belum 'ngeh' kalau pov 2 yang mendominasi dan saat kucoba menghilangkan kata ganti aku dan dia, ternyata tidak berpengaruh pada keseluruhan cerita.
Berikut cerpen asal-muasal kampung Gentansari,
Desa Gladagsari,
Kecamatan Ampel,
Kabupaten Boyolali
masih berupa copas langsung dari google drive-ku. Sama sekali belum disunting. Kecuali line spacing.

Minggu, 23 Agustus 2015

Nyekar Sebatang Pohon

Pernah diikutkan dalam Kompetisi Tulis Nusantara.  Harapan terpendam menjadikan halaman rumah yang dititpkan ALLAH pada hamba-Nya ini menjadi suaka alam...

GALAH bambu itu mengarah ke ranting  pohon asam yang rimbun. Sepasang mata  yang sedari tadi mengamati tingkah polah beberapa anak mulai bergeming. Sejak anak-anak sepermainan itu datang  meminta ijin memetik buah jambu sukun  yang sedang lebat-lebatnya berbuah di halaman depan rumah,  penglihatan mata yang tajam mengikuti langkah mereka tanpa mereka sadari. Seolah-olah setiap jengkal tanah akan dijaganya dari tindak angkara murka.