Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Legenda Gentansari

Lanjutan saat ikutan Lomba kepenulisan Cerita Rakyat 2015 oleh Kemendikbud...
Dari blog YouandWe 'Tentang Cerita Rakyat'

Sebelum fix menemukan pov 2, cerpen ini kutulis menggunakan  kata ganti aku, kau, dan dia.
Bener kata bunda Shabrina +eni wulansari  ...rupanya aku belum 'ngeh' kalau pov 2 yang mendominasi dan saat kucoba menghilangkan kata ganti aku dan dia, ternyata tidak berpengaruh pada keseluruhan cerita.
Berikut cerpen asal-muasal kampung Gentansari,
Desa Gladagsari,
Kecamatan Ampel,
Kabupaten Boyolali
masih berupa copas langsung dari google drive-ku. Sama sekali belum disunting. Kecuali line spacing.

Minggu, 23 Agustus 2015

Ketika Nomer Seluler Itu Tersambung

Karya fiksi yang terangkai karena galau dengan nope tanpa nama. Memang, mulanya aku enggan menyebut nama lengkapku tapi diriku bukan tipe orang yang suka menyembunyikan identitas [eh?]!? >o<

Dalam Diary Cinta

 Theme song saat membuat catatan yang dilombakan ini adalah nasyidnya Zero berjudul 'Gadis Ayu'
@_@ jadi ge-er kalau ndengerin senandung itu. Tapi menngapa senandung yang kusertakan disini malah dari Kang Abay yang berjudul 'Galau Ku Pada-MU'?
 Soalnya ketika kisah ini jadi الحمدللله  sudah nyadar kalau 'ikhlas' itu merupakan riyadhah'[=latihan] bukan perasaan... Memaklumi kondisi hati yang berbolak-balik antara keimanan dengan keingkaran...
Bahwa cinta itu penderitaan yang berat. Beban itu akan ringan bila dikembalikan pada pemiliknya.. Siapa pemilik cinta itu? Tentu saja yang Maha Rakhmaan dan Maha Rakhiim.. Dialah ALLAH Sang Pemilik Cinta Sejati. Yakin kalau cinta itu bermuara pada-NYA maka kekal cinta kita. Tidak sebatas memiliki yang kita cinta padahal sebenarnya bukan milik kita[eh???!]
Atas karunia-NYA dapat memahami bahwa  cinta bukan sekedar kata-kata tapi juga rasa bahagianya orang yang kita cinta saat bersanding dengan seseorang. Dan seseorang itu bukan kita. Bila sakit hati karena hal tersebut, pastilah bukan cinta yang kita agung-agungkan itu karena kita sendiri yang telah salah menyikapi bentuk cinta dalam makna dan capaiannya yang berbeda...
Satukan makna dalam bentuk dan capaian yang berpadu!!!... 
Banyak kemungkinan dalam menemukannya...
Pastikan Cinta ALLAH jawabannya!!!...

***

Copas dari Catatan di akun facebook punyaku --> Catatan YouandWe

‘Akankah  Senandung Cinta ini terngiang jua di sanubarimu?’

Daniyya memulai catatannya. Sejenak, ia  mengumpulkan  keping-keping ingatannya menembus batas ruang waktu.

Mun Dan San

Flashfiction yang kutulis untuk mendapat hadiah buku. Belum berjodoh! Tapi aku suka kisah ini ^_^



Sebenarnya kamu ingin suasana terang benderang atau gelap pekat? San bertanya penuh tekanan pada Tirta. Sedang yang ditanya riuh sendiri, selanjutnya diam tenang tanpa menghiraukannya.
Mereka dibutuhkan untuk memberikan kesejukan, Sang Bayu lewat dengan kata-kata yang mesti dicerap maknanya. Semisterius kehadirannya yang tiba-tiba namun entah dimana sosoknya.

Flashfiction Pembunuh Berantai

Tulisan berikut pernah ku-share di grup BAW. Meski masih dalam ingatan, tapi untuk kesekian kali kutuliskan kembali. Jadi beda feel-nya? Memang ada penyempurnaan bahasa, namun yang paling awal keluar dari pemikiran… rasanya… lebih dalem, kayaknya? Entahlah…

Mari mengenang kembali!



0)))o((((0


Pisau telah terasah tajam. Mental pembunuh pun telah kulekatkan. Akan kubuktikan kalau aku bukan orang yang lemah hati. Dan Aku bukan Penakut! Kalian dengar?!

FF Memori Tentangmu

Aku menatapmu dalam hening. Meluangkan waktu untuk bicara denganmu. Dari hati ke hati. Hanya saja, ada hal lain yang  harus lebih kupikirkan. Dan, aku masih menunggu kesepakatan kalian.  Entah berapa lama kalian akan membuatku terdiam seperti ini ?
Lembaran putih telah terbuka. Lembaran yang selalu terbuka sendiri tanpa disuruh mengiringi lahirnya pagi. Dan kau bertanya padaku  tentang apa yang ingin aku torehkan padanya. Namun

Nyekar Sebatang Pohon

Pernah diikutkan dalam Kompetisi Tulis Nusantara.  Harapan terpendam menjadikan halaman rumah yang dititpkan ALLAH pada hamba-Nya ini menjadi suaka alam...

GALAH bambu itu mengarah ke ranting  pohon asam yang rimbun. Sepasang mata  yang sedari tadi mengamati tingkah polah beberapa anak mulai bergeming. Sejak anak-anak sepermainan itu datang  meminta ijin memetik buah jambu sukun  yang sedang lebat-lebatnya berbuah di halaman depan rumah,  penglihatan mata yang tajam mengikuti langkah mereka tanpa mereka sadari. Seolah-olah setiap jengkal tanah akan dijaganya dari tindak angkara murka.

Sekali Ini Saja




Sekian lama menunggu nyaris jemu. Wajah itu kembali hadir. Seperti biasa aku diacuhkannya dan lebih memilih Si Bau Cemong itu. Ck.. Ck.. Ck.. Aku tidak mengerti, apa sih kelebihan Si Cemong itu selain baunya yang aneh itu? Padahal, aku kan lebih wangi, lebih lembut lagi.

Uh, aku ingin teriak.. Lagi.. Lagi..  dia lagi yang terpilih!